Detail Jurnal


Judul : Hubungan Peran Kader terhadap Kunjungan Balita dalam Pelaksanaan Posyandu (Studi di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun)
Pengarang : Rumpiati
Abstraksi : Latar Belakang: Posyandu adalah pelayanan yang diselenggarakan masyarakat dan untuk masyarakat sedangkan pemerintah hanya memfasilitasi. Di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo Kota Madiun terdapat 3 posyandu, semuanya posyandu aktif, jumlah kader yang ada dan terlatih 26 orang terdiri dari 9 kader Posyandu Sriti I, 8 kader di Posyandu Sriti II, dan 9 kader di Posyandu Sriti III. Dari 26 kader, 17 orang (65,22%) diantaranya adalah kader aktif. Cakupan kunjungan balita ke posyandu di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun belum memenuhi target (≥ 80%). Tujuan: Diketahui hubungan peran kader terhadap kunjungan balita dalam pelaksanaan Posyandu di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini analitik dengan desain cross sectional. Variabel dalam penelitian ini variabel independent (variabel bebas) yaitu peran kader dan variabel dependent (variabel tergantung) yaitu kunjungan balita. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability dan teknik quota sampling. Instrumen penelitian ini daftar pertanyaan (kuesioner) dan data sekunder (buku KIA). Jumlah responden 26 orang. Pengolahan data menggunakan SPSS dengan uji Chi Square. Analisis data yang digunakan dengan teknik analisis univariate dan bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil pengolaha data, didapatkan ρ = 0,372 di mana ρ ini lebih dari 0,05. Tidak ada hubungan bermakna antara peran kader posyandu terhadap kunjungan balita dalam pelaksanaan Posyandu di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. Kesimpulan: Sebagian besar kader pelaksanaan posyandu di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun dalam 6 bulan terakhir berjalan aktif aktif, 24 orang (92,307%) dan cakupan kunjungan balita (D/S) meningkat 87,56%. Tidak ada hubungan antara peran kader dengan kunjungan balita dalam pelaksanaan Posyandu di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
Download File   Rumpiati

Judul : Perbedaan Pelayanan Standar Minimal 7T pada Ibu Hamil Antara Bidan Puskesmas dan Bidan Desa di Kabupaten Tuban Tahun 2011
Pengarang : Eva Silviana Rahamawati
Abstraksi : Latar Belakang: Menurut data Profi l Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, kematian ibu di Kabupaten Tuban yaitu pada tahun 2009 terdapat 11 orang dengan penyebab utamanya eklamsi (4 orang). Berdasarkan hasil survei pendahuluan diperoleh informasi bahwa pelaksanaan pelayanan standar minimal 7T pada bidan puskesmas dan bidan desa belum semua dilaksanakan, selain itu diperoleh data bahwa masih ada hambatan yang dihadapi dalam pelayanan standar minimal 7T salah satunya sarana prasarana bidan desa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pelayanan standar minimal 7T pada ibu hamil antara bidan puskesmas dan bidan desa di Kabupaten Tuban. Metode: Penelitian menggunakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data melalui metode wawancara dengan bantuan kuesioner terstruktur pada bidan puskesmas dan bidan desa. Jumlah sampel 80 yaitu 40 bidan puskesmas dan 40 bidan desa di Kabupaten Tuban. Analisis univariat dilakukan dengan deskriptif frekuensi, analisis bivariat dengan uji Independent t-test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi, komunikasi, sumber daya dan disposisi/sikap dalam pelayanan standar minimal 7T pada bidan puskesmas lebih baik dari pada bidan desa, sedangkan struktur birokrasi antara bidan puskesmas dan bidan desa sudah dapat berjalan dengan baik. Ada perbedaan Implementasi pelayanan standar minimal 7T antara bidan puskesmas dan bidan desa (p = 0,000). Ada perbedaan komunikasi dalam pelayanan standar minimal 7T antara bidan puskesmas dan bidan desa (p = 0,018). Ada perbedaan sumber daya dalam pelayanan standar minimal 7T antara bidan puskesmas dan bidan desa (p = 0,000). Ada perbedaan sikap dalam pelayanan standar minimal 7T antara bidan puskesmas dan bidan desa (p = 0,000). Tidak ada perbedaan struktur birokrasi dalam pelayanan standar minimal 7T antara bidan puskesmas dan bidan desa (p = 0,625). Kesimpulan: Variabel yang terdapat perbedaan dalam pelayanan standar minimal 7T adalah komunikasi, sumber daya, sikap dan pelaksanaannya. Saran bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban adalah dalam sosialisasi menggunakan metode tidak hanya ceramah melainkan juga diskusi serta tanya jawab, menyediakan sumber daya yang mendukung pelaksanaan pelayanan standar minimal 7T.
Download File   Eva Silviana Rahamawati

Judul : Hubungan antara Pelatihan Kader Komunitas TB Dots dengan Jumlah Suspek TB yang Terjaring di puskesmas Kabupaten Tuban
Pengarang : Miftahul Munir
Abstraksi : Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban Tatun 2009 angka kejadian TB telah dilakukan survey dari 33 kecamatan ditenukan suspek 1.233 orang yaitu 853 orang BTA (+), 380 orang BTA (–), dari keseluruhan jumlah penduduk di Kabupaten Tuban. Pada tahun 2010 ditemukan suspek 1.233 orang yaitu 774 BTA (+), dan 469 (–). Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat kesadaran penderita, adanya penderita yang putus berobat, selain itu juga jauhnya tempat pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pelatihan kader komunitas TB Dots dengan jumlah suspek yang terjaring di puskesmas Kabupaten Tuban. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Populasinya sebesar 33 puskesmas. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenu dengan besar sample 33 puskesmas. Variabel indevendennya adalah pelatihan kader komunitas TB Dots, sedangkan variable devendennya adalah jumlah suspek yang terjaring di puskesmas Kabupaten Tuban. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan register pasien di puskesmas. Analisis data dengan menggunakan koefi sien kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% puskesmas yang tidak mengikuti pelatihan kader yaitu sebesar 18 puskesmas (54,54%), sedangkan yang mengikuti pelatihan kader komunitas TB Dots yaitu sebesar 15 puskesmas (45,45%). Hasil uji Chi Square χ2 hitung = 24,01 > χ2 tabel = 5,591 dan p > 0,05 maka Ho di tolak terdapat hubungan yang signifi kan antara pelatihan kader komunitas TB Dots dengan jumlah suspek yang terjaring di puskesmas Kabupaten Tuban. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pelatihan kader dapat memengaruhi jumlah suspek yang terjaring di puskesmas. Oleh karena itu pelatihan kader komunitas TB Dots ini diharapkan lebih diperluas ke wilayah kerja puskesmas yang belum mendapatkan pelatihan kader komunitas TB Dots.
Download File   Miftahul Munir

Judul : Epigallocatechin Gallate (EGCG) Teh Hijau Menurunkan Kadar Trigliserida yang Berhubungan dengan Penurunan Kadar SREBP-1 (pada Tikus Galur Wistar Jantan yang Diberi Diet Tinggi lemak
Pengarang : Herin Mawarti
Abstraksi : Dalam kondisi makan berlebih yang kaya akan gula, karbohidrat dan saturated fatty acid (SFA), SREBP-1 akan meningkat untuk sintesis lemak seperti trigliserida. Konsumsi Epigallocatechin Gallate (EGCG) teh hijau dilaporkan banyak bermanfaat pada upaya peningkatan kesehatan, seperti pembakaran lemak dan mencegah obesitas. Sehingga teh hijau (Camelia sinensis) dari klon GMB4 dapat dikembangkan sebagai agen terapeutik potensial untuk obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan Epigallocatechin Gallate (EGCG) teh hijau dapat menghambat peningkatan kadar trigliserida dan SREBP-1 pada tikus galur wistar jantan yang diberi diet tinggi lemak. Penelitian ini dilakukan secara invivo dengan pemeliharaan hewan coba selama 8 minggu yang dibagi dalam lima kelompok perlakuan: (1) kelompok kontrol (–) dengan pemberian diet pakan standart, (2) kelompok kontrol (+) dengan pemberian diet tinggi lemak, (3) Pemberian diet tinggi lemak + EGCG 1mg/kgBB, (4) Pemberian diet tinggi lemak + EGCG 2 mg/kgBB, (5) Pemberian diet tinggi lemak + EGCG 8 mg/kgBB. Pakan tikus diberikan secara oral, sedangkan EGCG per sonde 1×/hr. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah spektrofotometri untuk mengukur kadar trigliserida darah puasa dan ELISA untuk kadar SREBP-1 jaringan adipose. EGCG menurunkan lemak viseral, kadar tigliserida dan SREBP-1 (p < 0,05). Penurunan trigliserida signifi kan pada dosis 1,2 dan 8 mg/kgBB dan dosis 8 mg/kgBB menurun sebesar 51,7%. Penurunan Kadar SREBP-1 secara signifi kan sebesar 29,85% pada dosis 8 mg/kgBB, Korelasi trigliserida dengan SREBP-1 (r = 0,56; p = 0,004). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa EGCG mampu menghambat kadar trigliserida darah puasa yang berhubungan dengan penurunan kadar SREBP-1.
Download File   Herin Mawarti

Judul : Optimasi Formula Tablet Lepas Lambat Kaptopril Menggunakan Sistem Kombinasi Polimer HPMC K4M dan Guar Gum
Pengarang : Angeline Rosiana,Lannie Hadisoewignyo
Abstraksi : Kaptopril merupakan obat anti hipertensi dengan frekuensi penggunaan berulang kali dalam sehari,oleh sebab itu kaptopril perlu diformulasikan dalam bentuk lepas lambat. Formula tablet lepas lambat kaptopril diperoleh dengan menggunakan metode factorial design. Faktor yang diteliti adalah perbandingan HPMC K4M – Guar gum pada tingkat 1:1 dan 4:1 serta konsentrasi asam tartrat pada tingkat 0% dan 5%. Respon terpilih adalah kekerasan tablet, kerapuhan tablet, fl oating lag time, dan konstanta laju disolusi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kedua faktor dan interaksinya terhadap sifat fi sik massa tablet, pelepasan kaptopril, fl oating lag time, seta memperoleh formula optimum yang memenuhi persyaratan dan menghasilkan tablet dengan pola pelepasan obat menurut kinetika orde nol. Faktor kombinasi perbandingan HPMC K4M – Guar gum dapat meningkatkan kekerasan, menurunkan kerapuhan, mempercepat fl oating lag time, dan memperbesar konstanta laju disolusi. Faktor konsentrasi asam tartrat dapat menurunkan kekerasan, meningkatkan kerapuhan, mempercepat fl oating lag time, dan memperbesar konstanta laju disolusi. Faktor interaksi keduanya dapat menurunkan kekerasan, meningkatkan kerapuhan, memperlambat fl oating lag time, dan memperbesar laju disolusi. Formula optimum dapat diperoleh dengan kombinasi perbandingan HPMC K4M – Guar gum 3,04:1 dan konsentrasi asam tartrat 1,33%, dengan respon kekerasan 12,48 kp, kerapuhan 0,29%, fl oating lag time 0,92 menit, dan konstanta laju disolusi 0,04 mg/menit.
Download File   Angeline Rosiana,Lannie Hadisoewignyo

Judul : Pengaruh Model PBL terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Mahasiswa pada Mata Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia di Akper Bahrul Ulum Jombang Tahun 2010
Pengarang : Enny Puspita
Abstraksi : Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran serta seluruh mahasiswa yaitu model pembelajaran berbasis masalah. Pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah dengan cara menempatkan para mahasiswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode PBL terhadap peningkatan motivasi dan prestasi belajar mahasiswa AKPER Bahrul Ulum Jombang. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy experimental dengan pendekatan after only with control design. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa AKPER Bahrul Ulum Jombang semester 1 dengan jumlah 64 mahasiswa. Pengambilan sampel yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan angket menggunakan kuesioner untuk variabel motivasi dan tes formatif untuk prestasi belajar. Hasilnya kemudian dianalisis secara diskriptif menggunakan uji korelasi t-test. Hasil analisis diskriptif diperoleh hasil bahwa frekuensi motivasi belajar mahasiswa sebagian besar motivasi tinggi yaitu 62,5%, dan yang mempunyai prestasi belajar setengahnya cukup yaitu 50%. Pengaruh model PBL terhadap motivasi dan prestasi belajar mahasiswa AKPER Bahrul Ulum Jombang dengan nilai probabilitas 0,000. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan model PBL mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar mahasiswa.
Download File   Enny Puspita

Judul : Hubungan antara Tingkat Kecemasan Ibu dengan Lama Persalinan Kala II di Bidan Praktik Swasta Kabupaten Tuban
Pengarang : Miftahul Munir
Abstraksi : Proses persalinan selain dipengaruhi oleh faktor passage, passanger, power dan penolong, faktor psikis juga sangat menentukan keberhasilan persalinan. Di mana kecemasan atau ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (intra psikis) yang dapat mengakibatkan ketegangan pada otot-otot jalan lahir sehingga persalinan menjadi lama/ kala II memanjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan ibu dengan lama persalinan kala II di BPS Kabupaten Tuban. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode analitik dengan desain penelitian kohort yaitu mengelompokkan atau mengklasifi kasikan kelompok terpapar, kemudian diamati sampai waktu tertentu untuk melihat ada tidaknya fenomena tersebut. Yang pengambilan sampelnya dilakukan secara konsekutif sampling, yaitu dilakukan sampai kurun waktu tertentu sampai semua sampel terpenuhi dengan memilih sample sesuai kriteria inklusi. Dengan menggunakan lembar observasi dan lembar kuesioner yang mengacu pada skala TMAS. Hasil penelitian dari 30 responden yang dilakukan pada bulan Mei–Juni 2011 didapatkan responden 50% memiliki tingkat kecemasan sedang dan 86,7% mengalami lama persalinan kala II cepat. Hasil uji Chi Square χ2 hitung = 68,222 > χ2 tabel yaitu ≥ 5,991 berarti Ho ditolak artinya ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan lama persalinan kala II. Kesimpulan dari peneliti ini adalah ada hubungan antara tingkat kecemasan ibu dengan lama persalinan kala II. Di mana dukungan keluarga dan penolong memiliki peran penting dalam hal mengurangi tingkat kecemasan ibu saat persalinan.
Download File   Miftahul Munir

Judul : Penggunaan Garam Beriodium pada Ibu Rumah Tangga di Desa Bungu Kecamatan Bungkal Ponorogo
Pengarang : Mohamad Badri
Abstraksi : Garam beriodium diperlukan untuk mencegah penyakit gondok. Sumber iodium disamping berasal dari garam yang beriodium juga dapat berasal dari makanan terutama yang berasal dari laut misalnya ikan dan lain-lain. Penggunaan garam beriodium dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap, lingkungan, sosial ekonomi dan informasi. Garam beriodium bermanfaat antara lain untuk pertumbuhan otak dan saraf janin dalam kandungan, mencegah terjadinya penyakit gondok, kretin, dan mengatur penggunaan energi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengetahuan dan sikap tentang penggunaan garam beriodium, macam garam yang digunakan, cara penggunaan garam beriodium,dan cara penyimpanan garam beriodium ibu rumah tangga di Desa Bungu Kecamatan Bungkal Ponorogo. Rancangan penelitian ini adalah diskriptif. Populasinya adalah ibu rumah tangga di Desa Bungu Kecamatan Bungkal berjumlah 367 orang. Sampelnya 36 orang ibu rumah tangga. Tehnik pengambilan sampel Cluster Random Sampling. Instumen pengumpulan data mengunakan kuisioner dan check list. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang penggunaan garam beriodium setengahnya (50%) buruk. Sikap ibu tentang penggunaan garam beriodium 52,78% negatip. Jenis garam yang digunakan 94,44% beriodium. Cara penggunaan garam beriodium 41,66% buruk. Cara penyimpanan garam beriodium 36,11% Buruk. Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, cara menggunakan dan cara menyimpan garam beriodium diperlukan penyuluhan kepada ibu-ibu rumah tangga.
Download File   Mohamad Badri

Judul : Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Batita
Pengarang : Zauhani Kusnul H
Abstraksi : Perkembangan anak pada tahap awal 0–3 tahun sangat penting karena akan mendasari dan menentukan proses perkembangan selanjutnya. Status gizi merupakan salah satu hal yang berpengaruh terhadap perkembangan anak terutama pada saat perkembangan anak berjalan sangat pesat pada usia balita terutama 0–3 tahun, atau sering disebut sebagai golden period perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara status gizi dan tingkat perkembangan batita (anak di bawah tiga tahun). Penelitian ini menggunakan design analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak batita di Desa Plososari Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto sebanyak 56 anak, sampel sebanyak 50 anak dan diambil dengan teknik simple random sampling. Penilaian status gizi menurut indikator BB/U (KMS) dan perkembangan dinilai dengan DDST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifi kan antara status gizi dan perkembangan batita. Sehingga untuk menunjang tercapainya perkembangan anak yang optimal, status gizi merupakan faktor penting untuk diperhatikan.
Download File   Zauhani Kusnul H